Selain beribadah kepada Allah Swt, seorang muslim juga dianjurkan bekerja untuk kelangsungan hidup diri dan keluarganya serta memenuhi kebutuhan sehari-hari. Seseorang yang bekerja untuk membiayai kebutuhan rumah tangganya dikategorikan jihad fi sabilillah.
Pada suatu ketika melintas di hadapan Rasulullah dan para sahabat seorang laki-laki yang dikenal sebagai orang yang giat bekerja. Kemudian para sahabat berkata, “Wahai Rasulullah, andai bekerja seperti dilakukan orang itu dapat digolongkan jihad di jalan Allah, maka alangkah baiknya.” Kemudian Rasulullah menjawab, “Kalau ia bekerja untuk menghidupi anak-anaknya yang masih kecil, maka itu fi sabilillah; kalau ia bekerja untuk menghidupi kedua orang tuanya yang sudah lanjut usia, maka itu fi sabilillah; kalau ia bekerja untuk kepentingan dirinya sendiri agar tidak meminta-minta, maka itu fi sabilillah.” (HR Thabrani)
Lalu, bagaimanakah Islam mengatur seorang muslim dalam bekerja? Berikut ini ulasannya.
Mencari pekerjaan yang halal dan menjauhi yang haram
Dalam mencari pekerjaan kita juga harus memilih pekerjaan yang halal. Mendapatkan harta yang berlimpah melalui jalan haram sungguh merupakan perbuatan sia-sia karena rezeki sudah ditentukan oleh Allah Swt.
Dari Jabir bin Abdillah radhiyallahuanhu, Nabi Muhammad shallallahu alaihi wa sallam bersabda, “Wahai umat manusia, bertakwalah engkau kepada Allah, dan tempuhlah jalan yang baik dalam mencari rezeki, karena sesungguhnya tidaklah seorang hamba akan mati, hingga ia benar-benar telah mengenyam seluruh rezekinya, walaupun terlambat datangnya. Maka bertakwalah kepada Allah, dan tempuhlah jalan yang baik dalam mencari rezeki. Tempuhlah jalan-jalan mencari rezeki yang halal dan tinggalkan yang haram.” (HR. Ibnu Majah)
Carilah keberkahan dalam pekerjaan
Sesungguhnya yang terpenting dari sebuah pekerjaan adalah keberkahan, bukan seberapa besar materi yang diperoleh.
Seoran sahabat bertanya kepada Rasulullah Saw, “Wahai Rasulullah, mata pencaharian (kasb) apakah yang paling baik?” Beliau bersabda, “Pekerjaan seorang laki-laki dengan tangannya sendiri dan setiap jual beli yang mabrur (diberkahi).” (HR. Ahmad)
Dari hadis tersebut dapat kita ambil pelajaran bahwa dalam bekerja seharusnya kita mengharapkan keberkahan ketimbang harta semata.
Bekerjalah dengan pekerjaan yang tidak merugikan orang lain
Rasulullah bersabda, “Tidak boleh menimbun barang, jika tidak, maka ia termasuk orang yang berdosa.” (HR. Muslim). Imam Nawawi mengatakan dalam Syarh Shahih Muslim bahwa, “Hikmah terlarangnya menimbun barang karena dapat menimbulkan mudarat bagi khalayak ramai.”
Berdoa dan bertawakal kepada Allah atas segala yang kita usahakan
Sebesar apapun usaha yang kita lakukan, yang memberikan rezeki adalah Allah Swt. Maka dari itu, jangan pernah berputus asa dalam bekerja, berdoa, dan serahkanlah hasil serta keputusannya hanya kepada Allah Swt.
Nabi Muhammad Saw selalu berdoa, “Ya Allah cukupkanlah aku dengan yang halal dan jauhkanlah aku dari yang haram, dan cukupkanlah aku dengan karunia-Mu dari bergantung pada selain-Mu” (HR. Tirmidzi).


Leave a Reply